← Semua artikel

Keutamaan

Keutamaan Membaca Al-Quran bagi yang Masih Terbata-bata: Janji Dua Pahala dari Rasulullah

Tim BerQuran · 22 Agustus 2026

Keutamaan Membaca Al-Quran bagi yang Masih Terbata-bata: Janji Dua Pahala dari Rasulullah

Pernahkah Anda merasa ragu atau bahkan malu saat membuka mushaf karena lidah terasa kaku mengeja huruf demi huruf? Rasa cemas akan melakukan kesalahan sering kali membuat seseorang menunda interaksinya dengan Kitabullah. Padahal, memahami keutamaan membaca al quran terbata bata akan mengubah cara pandang Anda terhadap setiap perjuangan mengeja ayat-ayat suci.

Dalam ajaran Islam, proses belajar dan jerih payah seseorang dalam mendekatkan diri kepada firman Allah tidak pernah dipandang sebelah mata. Setiap tarikan napas berat dan pengulangan makhraj huruf yang belum sempurna justru membawa keistimewaan tersendiri di hadapan Allah.

Makna Janji Dua Pahala bagi Pembaca yang Masih Terbata-bata

Rasulullah dalam sebuah hadis yang sangat masyhur memberikan kabar gembira bagi umatnya yang membaca Al-Quran dalam keadaan belum lancar. Beliau menjelaskan bahwa orang yang mahir membaca Al-Quran akan bersama para malaikat yang mulia, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan merasa berat saat melafalkannya akan memperoleh dua pahala.

Para ulama menjelaskan bahwa dua pahala tersebut mencakup dua dimensi perjuangan:

  • Pahala Tilawah: Ganjaran atas setiap huruf Al-Quran yang dibaca, sama seperti pembaca lainnya.
  • Pahala Kesabaran dan Kesungguhan: Ganjaran ekstra atas rasa lelah, kesabaran menahan rasa malu, dan usaha keras untuk terus mengulang huruf yang sulit diucapkan.

Dengan demikian, kondisi belum lancar bukanlah aib yang harus menyurutkan langkah Anda. Justru, rasa berat tersebut merupakan ladang penggandaan pahala yang belum tentu didapatkan oleh mereka yang sudah fasih dan membaca dengan santai.

Mengatasi Hambatan Mental saat Belajar Membaca Al-Quran

Banyak muslim dewasa merasa terlambat untuk belajar Al-Quran dari awal. Hambatan terbesar sering kali bukan pada kemampuan fisik lidah, melainkan pada beban psikologis. Berikut beberapa cara mengurai hambatan tersebut:

1. Singkirkan Anggapan Bahwa Anda "Terlalu Tua"

Sebagian besar sahabat Nabi mempelajari Al-Quran ketika mereka sudah berusia dewasa bahkan lanjut usia. Keindahan Al-Quran adalah ia senantiasa ramah bagi siapa saja yang berniat tulus untuk mempelajarinya, tanpa memandang usia.

2. Bedakan antara Sengaja Salah dan Sedang Belajar

Ketakutan akan dosa akibat salah membaca sering kali menjadi jebakan yang menghentikan langkah. Selama Anda berada dalam proses belajar, berikhtiar memperbaiki bacaan, dan tidak berniat meremehkan hukum tajwid, proses belajar tersebut berada dalam naungan ampunan dan rahmat Allah.

3. Hindari Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Perjalanan setiap orang bersama Al-Quran bersifat personal. Fokuslah pada kemajuan harian Anda sendiri, misalnya dari yang semula hanya mampu membaca satu baris dalam lima menit menjadi dua baris dengan lebih tenang.

Strategi Praktis Melancarkan Bacaan Tanpa Rasa Tertekan

Agar kemampuan membaca meningkat secara konsisten tanpa menimbulkan kejenuhan, Anda dapat menerapkan beberapa langkah teknis yang teruji berikut:

Pertama, gunakan metode talaqqi mandiri dengan bantuan audio. Sebelum mulai mengeja satu ayat, dengarkan lantunan qari perlahan sebanyak dua hingga tiga kali. Amati bagaimana qari membuka vokal, memanjangkan harakat, dan menghentikan bacaan pada tanda wakaf.

Kedua, manfaatkan teknologi untuk membangun kebiasaan bersama. Belajar sendirian terkadang memicu rasa malas, namun bergabung dalam lingkaran interaktif dapat menjaga semangat harian. Melalui platform digital seperti BerQuran, Anda bisa memanfaatkan panduan suara sekaligus mengaji bersama komunitas yang saling mendukung tanpa ada penghakiman.

Ketiga, pecah ayat-ayat panjang menjadi potongan-potongan pendek. Jangan memaksakan membaca satu ayat penuh dalam satu tarikan napas jika Anda masih kesulitan menyambung huruf. Berhentilah pada jeda kata yang aman, ulangi kata terakhir jika diperlukan, lalu lanjutkan secara bertahap.

Rencana Aksi Harian untuk Meningkatkan Kelancaran

Komitmen kecil yang dilakukan secara rutin jauh lebih berdampak daripada belajar berjam-jam tetapi hanya dilakukan sebulan sekali. Anda dapat memulai rutinitas harian dengan panduan sederhana ini:

  1. Tentukan Target Minimal: Alokasikan waktu 10 hingga 15 menit setiap hari, misalnya setelah salat Subuh atau Magrib. Cukup targetkan membaca 3 sampai 5 baris ayat pendek.
  2. Gunakan Mushaf yang Ramah Pemula: Pilih mushaf dengan ukuran huruf yang jelas dan memiliki panduan tajwid berwarna untuk memudahkan identifikasi hukum bacaan seperti dengung (ghunnah) atau panjang (mad).
  3. Rekam dan Evaluasi Suara Sendiri: Gunakan perekam suara di ponsel saat Anda membaca. Dengarkan kembali sambil mencocokkannya dengan bacaan qari rujukan untuk menemukan huruf mana yang masih butuh perbaikan.
  4. Cari Guru Pembimbing atau Teman Belajar: Setorkan bacaan Anda secara berkala kepada orang yang lebih memahami tajwid agar kesalahan tidak menjadi kebiasaan yang menetap.

Membaca Al-Quran adalah perjalanan seumur hidup. Setiap detik yang Anda habiskan untuk mengeja huruf hijaiyah dengan penuh kesungguhan adalah bukti cinta Anda kepada kalam-Nya. Teruslah membuka mushaf, nikmati setiap prosesnya, dan yakinlah bahwa tidak ada jerih payah yang sia-sia di hadapan Allah.

Artikel lainnya