← All articles

Virtues

Keutamaan Mukmin yang Membaca Al-Quran: Perumpamaan Indah Buah Utrujjah dalam Hadits

BerQuran Team · October 11, 2026

Keutamaan Mukmin yang Membaca Al-Quran: Perumpamaan Indah Buah Utrujjah dalam Hadits

Pernahkah Anda mencium aroma buah segar yang merebak ke seluruh ruangan sebelum Anda sempat mencicipinya? Dalam khazanah Islam, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memberikan perumpamaan yang luar biasa indah mengenai seorang mukmin yang istiqamah membaca kalam Ilahi. Melalui perumpamaan ini, keutamaan membaca al quran buah utrujjah menjadi cerminan sosok muslim ideal yang memadukan kebaikan batiniah sekaligus memberi manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya.

Buah utrujjah (sejenis jeruk sitrun aromatik) dikenal memiliki dua keistimewaan utama: baunya sangat harum menenangkan dan rasanya manis menyegarkan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengibaratkan seorang mukmin yang membaca Al-Quran persis seperti buah tersebut. Keindahan perumpamaan ini mengajak kita merenung, di manakah posisi kita hari ini dan bagaimana kita bisa memancarkan keberkahan Al-Quran dalam keseharian.

Makna Indah di Balik Perumpamaan Buah Utrujjah

Para ulama menjelaskan bahwa pemilihan buah utrujjah bukanlah kebetulan semata. Buah ini memiliki kulit tebal beraroma wangi, daging buah yang lembut, dan rasa yang lezat. Aroma harum melambangkan bacaan Al-Quran yang dilantunkan dengan suara tartil, terdengar merdu di telinga orang lain, serta membawa ketenangan bagi siapa saja yang menyimaknya. Sementara itu, rasa manis melambangkan keimanan yang kokoh di dalam hati sang pembaca.

Ketika Anda melantunkan ayat-ayat Al-Quran, kebaikan tersebut tidak berhenti pada diri Anda sendiri. Getaran suara tilawah, adab yang terpancar dari interaksi dengan mushaf, dan keteduhan aura seorang pembaca Al-Quran menyebar ke sekeliling rumah dan pergaulan, persis seperti aroma utrujjah yang memenuhi ruangan sebelum buah itu dibelah.

Memahami Empat Golongan Manusia dalam Hadits

Untuk memahami betapa tingginya kedudukan pembaca Al-Quran, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengelompokkan manusia ke dalam empat perumpamaan yang sangat jelas:

  • Mukmin yang membaca Al-Quran: Diibaratkan seperti buah utrujjah, memiliki aroma yang harum semerbak dan rasa yang manis. Imannya nyata, dan syiar bacaannya memberi manfaat bagi orang lain.
  • Mukmin yang tidak membaca Al-Quran: Diibaratkan seperti buah kurma, tidak memiliki aroma khas yang tercium dari jauh, namun rasanya tetap manis. Imannya ada dan baik untuk dirinya, tetapi ia tidak memancarkan harumnya tilawah kepada orang lain.
  • Orang munafik yang membaca Al-Quran: Diibaratkan seperti tanaman raihanah (tumbuhan wangi), baunya tercium harum memikat, namun rasanya pahit getir. Suara atau bacaannya tampak indah di luar, namun hatinya hampa dari keimanan.
  • Orang munafik yang tidak membaca Al-Quran: Diibaratkan seperti buah hanzhalah (labu pahit), tidak memiliki bau sama sekali dan rasanya sangat pahit. Tidak ada kebaikan batin maupun lahiriah yang bisa dipetik darinya.

Perumpamaan ini menegaskan bahwa keimanan semata perlu disempurnakan dengan interaksi aktif bersama Al-Quran. Membaca Al-Quran adalah sarana terbaik untuk mengubah kebaikan personal (seperti kurma) menjadi kebaikan yang berdampak luas dan menyejukkan (seperti utrujjah).

Mengapa Melafalkan Al-Quran Menghadirkan 'Aroma Harum'?

Banyak muslim merasa cukup membaca Al-Quran di dalam hati tanpa menggerakkan bibir atau mengeluarkan suara. Padahal, membaca Al-Quran secara bersuara perlahan (jahr) dengan makhraj dan tajwid yang benar menghidupkan suasana spiritual yang berbeda. Suara bacaan Al-Quran mengusir kegelisahan, melembutkan hati yang keras, dan mengundang malaikat rahmat mendekat ke kediaman Anda.

Inilah wujud nyata dari "aroma utrujjah" di era modern. Saat Anda menyempatkan diri mengaji di ruang keluarga, anak-anak dan pasangan Anda ikut mendengar lantunan ayat suci. Begitu pula saat Anda membaca bersama sahabat atau komunitas dalam kelompok ngaji, energi kebaikan itu saling menular. Dukungan dari platform digital seperti BerQuran memudahkan Anda mendengarkan pelafalan yang tepat sekaligus menjaga komitmen khatam bersama teman-teman tanpa terhalang jarak.

Langkah Praktis Menjadi Pribadi Utrujjah Setiap Hari

Menjadi muslim yang harum dan manis seperti utrujjah memerlukan pembiasaan terstruktur. Anda tidak harus langsung membaca satu juz dalam sekali duduk jika merasa berat. Kuncinya terletak pada kesinambungan dan kesungguhan hati. Berikut beberapa langkah konkret yang dapat langsung Anda terapkan:

  1. Tentukan Waktu Sakral untuk Al-Quran: Sisihkan waktu 15 hingga 20 menit pada momen yang paling tenang, misalnya selepas shalat Subuh atau menjelang tidur malam. Jadikan waktu ini bebas dari gangguan ponsel dan urusan duniawi.
  2. Keluarkan Suara Secara Tartil: Jangan hanya membaca di dalam hati. Lafalkan setiap huruf dengan jelas, dengarkan suara Anda sendiri, dan hayati getaran lafaz Allah di lisan Anda. Ini melatih lisan tetap basah dengan zikir.
  3. Pahami Makna Minimal Satu Ayat per Hari: Agar rasa manis iman semakin meresap, sempatkan membaca terjemahan atau tafsir ringkas dari ayat yang baru Anda baca. Hubungkan pesan ayat tersebut dengan peristiwa hidup yang sedang Anda hadapi.
  4. Bangun Ekosistem Mengaji Bersama: Keistiqamahan sering kali goyah jika diperjuangkan sendirian. Bergabunglah dengan grup tadarus atau ajak keluarga membuat target khatam bersama. Saling mengingatkan giliran membaca akan menjaga semangat tetap menyala ketika rasa malas datang.
  5. Cerminkan Akhlak Al-Quran dalam Perilaku: Aroma utrujjah menjadi sempurna ketika lisan yang membaca Al-Quran menolak berkata dusta, tangan yang memegang mushaf ringan bersedekah, dan hati yang menyimpan ayat-ayat-Nya senantiasa berprasangka baik kepada sesama.

Mulailah hari ini dengan membuka mushaf Anda, lantunkan beberapa ayat pertama dengan penuh penghayatan, dan biarkan keharuman Al-Quran menyertai setiap langkah hidup Anda.

More articles